Juni 2014
“Tapi yang fana
adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi. (Sapardi, 1978)
Masa perkuliahan semester empat berakhir
di bulan juni. Setelah menjalani aktivitas kuliah yang membosankan dan melewati
ujian akhir praktik-teori yang melelahkan, akhirnya malam tiba juga, malam yang
kunantikan sejak awal, malam yang menjawab akhir kita, inikah akhir yang kita
ciptakan...sek sek, salah fokus haha. Akhirnya liburan tiba. School out,
holiday in! Liburan musim panas kali saya awali dengan pendakian ke gunung
merbabu, ini adalah kali kedua saya ke merbabu “Langkah Kecil Nyotho Ing
Merbabu.” Ya, setiap perjalanan yang saya lakukan akan saya namai Langkah
Kecil, nama baru yang saya temukan dalam perjalanan. Saya memang suka dengan
perjalanan. Tuhan beri kita jalan dan waktu, maka berjalanlah jauh, bawa
langkahmu tersesat ke dalam tanda tanya (?)
“tak ada yang lebih tabah dari hujan
bulan juni....”
14-15 Juni 2014, Langkah Kecil Merbabu
ini dijalani oleh tiga orang peserta; Saya, Wahyu, dan Singgih. Langkah Kecil
mendaki melalui jalur Selo yang pada saat itu ketiga peserta belum ada
pengalaman di jalur itu. Dengan niat dan hati yang bersih, Langkah Kecil
berhasil mencapai puncak trianggulasi dengan trek pendakian yang lumayan berat.
Untuk sampai menuju puncak dari jalur selo akan menyebrangi beberapa bukit dan
melewati jalur punggungan sapi, trek kelas berat untuk pendaki pemula seperti
kami ini.
Perjalanan dimulai sekitar pukul
setengah sembilan malam waktu bagian boyolali dan sekitarnya. Sampai di camp
area sabana II sudah sekitar pukul setengah satu dini hari. Pagi yang dini,
matahari masih nyingkruk di pelukan bumi. Kami harus mendirikan tenda dalam
keadaan tubuh menggigil dan melawan angin yang kencang waktu itu. Urung niat
kami untuk menaklukkan puncak sebelum matahari membangunkan pagi.
“Dingin pak, bapak mau mati membiru di
puncak?”
“Iya, dingin. Mending melanjutkan tidur
yang berharga ini.”
Treking ke puncak dilakukan setelah
matahari mulai meninggi, mlangkring di pinggiran bukit menghangatkan pagi. Dari
sabana II sudah terlihat puncak yang terpisah jarak. Ah, berapapun jarak jika
dijalani dengan hati yang ikhlas dan semangat hanya akan terasa selangkah.
Pendakian sukses, dan Langkah Kecil
Merbabu berakhir dengan bahagia. Nyotho Ing Merbabu.
merbabu edisi ramadhan.
Juli
2014
Tidak ada perjalanan keluar di bulan
Juli karena bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga waktu tidak mengijinkan.
Di bulan Juli mungkin hanya ada beberapa acara kecil; ngangkring (setiap hari),
buka bersama, kumpul handai taulan, dan halal bihalal.
19 Juli. Buber bigfamz CORO; Saya, Rosi,
Kak AW, Momo, Tyas, Nias, Iwed, dan ketambahan Wening. Buber di rumah makan
Suminar, spesial gurami bakar. Dalam Kebersamaan yang mewah
25 Juli, Buber coro. Teman kelas SMA.
Orang-orang yang selalu saya rindukan walau waktu masih sering mempertemukan
tangan-tangan kita. Buka bersama tahun ini digelar di rumah makan. Untuk
pertamakalinya setelah dua tahun sebelumnya selalu di rumah Momo. Buber
dihadiri hanya 19 pesrta dari 32 jumlah keluarga kelas. Umur semakin tua, waktu
semakin langka, kebersamaan dalam cangkir kopi semakin purba. Ya, memang susah
untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga kelas dengan segala kesibukan dan
kepentingan hidup yang berbeda-beda. Pada akhirnya, hiduplah yang akan
memisahkan kita. Namun seiring berjalannya waktu, akan menyisakan beberapa
kepala yang itu akan selalu saya rangkul dalam ikatan sahabat. Saya sangat
berterima kasih kepada sahabat, hadirnya menemani perjalanan saya.
Setelah acara buber selesai, rombongan
pindah ke angkringan depan diknas Ngawi. Angkringan tetap sedjak masa remadja,
SMA.
Thanks for Momo, Rosi, dan Kak Aw
27 Juli. Buber SD. Buber digelar di
rumah Iis. K. Yang ini malah lebih parah, hanya 8 orang yang hadir. Teman
seangkatan SD sudah memiliki kehidupan yang lebih kompleks; ada yang kerja di
luar jawa, ada yang sudah menikah, punya anak, dan ada pula yang sudah jadi
janda haha. Ndocill..rondho cilik.
Agustus
2014
2 Agustus. Halal Bihalal MAYAPADA
4-6 Agustus. Agenda liburan BigFamz Coro
musim panas ini ke Pantai Goa Cina, Malang. Pantai ini dinamakan GoCin karena
dahulu ada seorang pertapa cina yang melakukan aktivitas pertapaan di sebuah
gua pantai tersebut. Kemudian dia muksa bersama raganya di gua tersebut. Peserta Langkah Kecil GoCin; Saya, Kak AW,
Rosi, Tyas, Zaki, Babon, dan Bayu. Berangkat dari Ngawi menggunakan sepeda
motor dengan perjalanan jauh dan sangat melelahkan. Total waktu dari Ngawi
kira-kira 7-8 jam jalan. Saat itu tiba di GoCin sudah malam. Rencana awal kami
hanya camp semalam saja, namun karena kami merasa tersakiti oleh perjalanan
yang jauh, akhirnya kami putuskan untuk menambah satu malam lagi. Jadi dua
malam di pantai, yess!
Malam pertama hanya terisi oleh
klemah-klemah di pasir dan tenda karena terlalu lelah dalam perjalanan. Tidak
ada api unggun, Saya dan Babon mencari kayu untuk menambah kehangatan suasana
malam. Api menyala, percakapan kayu dengan api dimulai, sebelum hangus menjadi
abu. Bintang-bintang bagai pasir terbang ke langit,
berkerlap-kerlip-berjatuhan. Suara ombak menyatakan bahwa kami memang
benar-benar di pantai selatan. Tak ada yang tahu seberapa karang yang terkikis
oleh ombak pada malam itu. Semua larut dalam lelah, hanya Saya dan Babon yang
tertinggal di depan api. Semua telah lelap.
Malam terasa sangat panjang.
Satu-persatu mereka bergabung dengan kami di api unggun. Semua kembali menyala.
Kami membuat permainan “jawab jujur”. Sembari mengisi curhatan malam. Dan, saya
mendapat mata pisau dari babon. Dia ingin aku bercerita tentang kejelasan
hubungan saya dengan rosi. Ya, semua itu ada prosesnya. Dan saya tidak mau
memaksa. Semakin lama permainan itu terasa membosankan, dan mata mulai layu.
Saya memilih untuk tidur di atas pasir
seperti biasa, nyaman. Perkelahian malam dengan bulan telah melahirkan pagi
yang dini. Angin berhembus kencang, dini hari kedinginan. Tak ada dialog yang
sederhana kecuali nyingkruk mencari kehangatan. Akhirnya saya memutuskan untuk
tidur di dalam masjid. Di sana saya mendapatkan tidur dan mimpi mistis pantai
selatan.
Pagi berkicau; matahari membangunkan
seisi alam semesta. Siang membuntutinya di belakang. Pantai semakin ramai.
Banyak tante-tante, ciwai-ciwai seksi. Ini pantai! Sehari itu saya mandi di pantai
tiga kali, pagi siang, sore. Lengkap. Teman-teman membeli ikan di TPI untuk
dimasak dan bakar malam. Kami makan enak hari itu. Sore cumi, malam ikan bakar.
Malam kedua berlalu begitu saja. Pagi berkemas segera meninggalkan pantai dan
kembali ke Malang. Sampai di malang istirahat sejenak lalu melanjutkan
perjalanan ke Ngawi. Begitupun sampai di Ngawi sudah jam 1 pagi. “Aku Lelah”.
14-19 Agustus. Asu. Babon mengajak ke
Arjuna-Welirang. Gass! “Langkah Kecil Arjuna” dengan peserta; Saya, Babon, dan
dua teman Babon dari Jakarta, Kribo dan Gudel. Langkah Kecil kali ini adalah
yang paling menyesakkan. Ya, kami gagal melihat puncak gunung. Perih memang,
namun Saya mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari perjalanan ini. Gunung
adalah tempat sakral, jangan sekali-kali mendaki dengan hati yang kotor.
Sebetulnya perjalanan ini bukanlah sebuah kegagalan, karena tidak ada kegagalan
dalam mendaki gunung. Semua pendakian adalah sebuah keberhasilan jika kita bisa
menggambil himah dari perjalanan yang kita lakukan. Langkah Kecil jee..
Setelah turun dari gunung, Kribo
mengajak kami untuk mencari hiburan ke pantai. “Yaelah bo, pantai lagi.”
Yasudah, saya menuruti. Kasian mereka datang jauh dari jakarta tidak dapat
apa-apa.
Next destination adalah Pulau Sempu.
Wilayah “Cagar Alam” yang masih masuk daerah Sendang Biru, Malang. Kami dua
malam di Sempu, camp di Segara Anakan. Sempu, segara anakan; pantai tanpa ombak
itu membosankan. Namun yang menyenangkan dari segara anakan adalah tebing
karangnya yang bisa digunakan untuk terjun langsung ke air dengan kedalaman
sampai 3 meter. Kawasan sempu masih dihuni oleh berbagai macam hewan-hewan
liar; kera, lutung, siamang, burung, kijang, kancil, badak, dan harimau, dan
lain-lainnya. Vegetasi hutan juga masih terjaga. Namun seiring dengan semakin
banyaknya wisatawan yang masuk ke kawasan cagar alam ini, saya tidak jamin
kelestarian hutan tidak akan bertahan lama. #SaveSempu #SempuCagarAlam
#SempuBukanWisata. “Lha awakmu kok dolan rono mas?”
September
2014.
2-3 September. Langkah Kecil Lawu. Niat
pendakian ini adalah untuk menutup masa liburan yang akan segerai usai. Napas panjang
telah berlalu dengan segala susah senang di dalamnnya. Setiap perjalanan akan
selalu memberikan makna. Maka berjalanlah jauh dari rumah.
Anggota Langkah Kecil Lawu adalah
teman-teman kampung halaman; deni, gading, imam, titis, saya. Sedikit cerita
dari pendakian ini, sampai di Hargo Dalem kami mendapati pintu warung Mbok Yem terkunci.
Yah, mbok yemnya turun. Lawu kwok kwok, sepi. Untungnya kami membawa peralatan
lengkap, saya tidak pernah menganggap remeh gunung, lawu sekalipun yang ada
warung nasi di puncak.
Lawu malam itu sangat dingin, angin
lumayan kencang. Kami mendirikan tenda di rumah seng-sengan di Hargo Dalem. Niat
saya untuk meditasi di hargo dalem urung karena dingin. Malam terasa begitu
panjang, matahari terlambat datang. Kami menikmati malam dengan gigil. Yey,
saya selalu suka ketika mengigil di puncak. saya suka sensasi ketika malam tak
habis-habisnya dan pagi tak kunjung tiba, dalam malam terjaga menunggu pagi. Tidak
bisa tidur. Namun ada yang indah pagi itu, walau mata melewatkan lahirnya
matahari. Pandangan cerah, gunung-gunung timur semua tampak; kelud, arjuna,
welirang, mahameru. Gunung-gunng barat; merapi, merbabu, sumbing, sindoro,
slamet. Kami dapat untung sepagi itu.
Dalam perjalanan turun, saya dapat sms
dari heri, “bud alat mendakimu mau saya pinjam, ke merbabu.” “oke, saya ikut.” Gasss!!
6-7 September. Langkah Kecil Merbabu
Part II. Saya, heri, siti, arif, lantip, mas joko. Melalui jalur yang sama,
Selo, Boyolali. Belum bosan dengan punggungan sapi dan bukit-bukit brutall. Ketika
itu minggu terakhir masa liburan semester. Senin mulai masuk kuliah. Yah. Tidak
ada cerita yang menarik. Kali ini saya memilih tidur di puncak daripada
foto-foto dengan awan. Sudah mulai bosan. Ingin lebih merasakan kedamainan
puncak, resapan angin, belaian dingin, tenang, damai, and i want to feel like i
am free, to be me. Yak, menjadi diriku sendiri adalah hal besar yang ingin
selalu saya lakukan.
Kuliah mulai jalan. Namun “summer time”
tidak berhenti disini. :D Saya masih ingin habiskan matahari sampai ia purba di
penghujan.
Next; 20-21 September. Langkah Kecil Camp
di Sepanjang. Saya, siti, wawan, sarkum, arif, imam, dan dua teman arif. Agenda
ini hanya untuk mengisi kekosongan waktu karena saya tidak pulang ke Ngawi
gegara ada test pro-tefl untuk yang ketiga kalinya. Saya sudah bawa peralatan;
panci, kompor, flysheet dan sebagainya ketika test. Rodokenthir. Tapi hasil
test saya lulus :D akhirnya.
Kami hanya santai-santai di pantai;
api-api, tidur di pasir, main air. Tak ada cerita yang spesial di perjalanan
kali ini.
Oktober
2014
11-12 Oktober. Langkah Kecil
Sumbing. Sudah, ini yang terakhir.
Menutup “Summer Time” dalam tulisan ini. walau selanjutnya masih ada agenda
Lawu. Saya, heri, siti, dan topan. Pendakian dilakukan lewat jalur Garung,
Wonosobo. Kami jalan dengan persiapan yang matang. Jadi, tenang..saya telah
siap dalam pendakian, semua telah dipersiapkan dan dipertimbangkan secara
matang.
Start dimulai pukul sebelas pagi. Dari basecamp
stick pala, kami lewat jalur lama. Keluar dari desa melewatu perkebunan warga. Jalur
ini yang memutuskan asa, tak terkecuali untuk topan yang baru pertama kali
melakukan aktivitas pendakian. Jalur berupa jalan batu yang biasa dilewati oleh
pengantar pupuk kebun dan ojek-ojek gunung.motornya sangar pak, mereka
kebut-kebutan di gunung. Mirip balapan MTB kelas dunia.
Dari basecamp, kami sampai di pos 1
Malim pukul setengah satu siang. Pos 1 berupa tanah lapang dengan vegetasi yang
rimbun, sejuk. Mulai dari pos 1 naik
trek sudah mulai tanah yang berdebu di musim kemarau seperti ini. Namun trek
sudah sedikit enak dibanding sebelumnya, landai dan hanya sedikit nanjak
sebelum sampai di pos 2 Genus, pukul dua siang. Kami mengisi tenaga dengan nata
de coco dan roti, bekal untuk melanjutkan perjalanan. Setelah genus akan
mendaki bukit dengan pasir berdebu. Lumayan berat, namun hanya satu jam dari
Genus. Pos 3 Seduplak Roto pukul empat lewat duapuluh menit. Sore. Sedikit naik
dari pos 3 akan langsung bertemu dengan tanah lapang, sebelum pestan. Saya putuskan
untuk mendirikan camp di sini, karena pertimbangan di atas, pestan akan sangat
rawan terhadap badai. Di watu kotak hanya ada sedikit tanah lapang, daripada
tidak dapat tempat mendingan kami membuat tenda di bawah pestan.
Tenda berdiri, Senja muncul di batas
cakrawala. Saya tak ingin kehilangan moment ketemu senja. Senja dan pacar senja
kembali bersama. Cium cium senja. Kali ini saya tak linglung oleh senyuman
senja, malah ia habis di ujung bibir pacar senja.
Senja, kan ku tebas semua jarak di
cakrawala. Agar aku bisa mencintaimu selamanya.
Malam datang, kami menyiapkan makan malam.
Walau hanya mie instan, namun makan wakyu itu terasa berbeda. Mungkin karna
senja yang menyiapkannya. Malam berlalu begitu saja; api-api dan tidur yang
nyenyak ditimang-timang senja. Pacar senja tidur memimpikan senja. Senja berkelana
menemui pacar senja. Uopotopak, duh-,-
Pagi menyambut matahari yang mulai
meninggi, kami segera meninggalkan tidur dan bersiap summit puncak. Mengingat puncak
masih tiga jam dari pestan. Dari camp start pukul enam pagi. Mendaki trek yang
lumayan tajam, sampai di pasar watu pukul tujuh pagi. Banyak batu, 360 batu. Tertawalah
kawan... dari pasar watu ke watu kotak satu jam jalan. Kami sampai puncak
sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Kami kurang beruntung, dapat kabut. Sindoro
malu di kabut-kabut yang sepi. Kami tak bisa menikmati waktu, diburu waktu
karena kami sewa alat. Harus kembali tepat waktu
Turun ke camp, masak, packing, lalu
PULANGGGGG...
Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari (Sapardi,
1971)
waktu aku berjalan ke barat di waktu
pagi matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku
sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.
-Oktober 2014