Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Thursday, 12 November 2015

Hay Televisi, apa kau masih punya berita gembira?



Foto di dalam pigura melamun ketika jam dinding baru saja kehabisan baterai,
waktu seperti mengambang tanpa tik tok dan bunyi alarm.
Jam dinding belum mati, sesaat sebelum kehabisan baterai,
jam sempat berpesan kepada foto di dalam pigura, “Mas, Aku pergi dulu ya.
Mau jalan-jalan ke pasar, sekedar ingin melihat harga cabai dan bawang.”
Foto di dalam pigura hanya mengiyakan saja dalam hati,
lebih asyik dengan lamunanya.

Foto di dalam pigura menyimpan beban yang tak ingin diungkapkan
kepada siapa saja, termasuk jam dinding terdekatnya.
Beban di masa silam yang telah terkubur zaman. Foto adalah
sebuah peristiwa yang diabadikan di dalam sebuah gambar (mati).
Foto yang bagus adalah foto yang bisa menceritakan
suatu kejadiaan yang telah abadi di dalam sebuah gambar (hidup).

Jam dinding pergi ke pasar,
kini yang ada hanya tiga buah
jarum yang berceceran,
detik-detik yang tertata rapi,
dan waktu yang mati.
Di sore hari, menuju senja.

Televisi masih menyala,
menonton majikannya tidur di kursi.

Hari mulai surup ketika jam dinding pulang dari pasar,
rupa-rupanya jam dinding tak lupa membeli baterai.
Jarum sudah bisa berputar, waktu terlahir kembali,
dari luka yang terkulai di lantai. Berdebu.
Lamunan foto di dalam pigura terganggu oleh tik tok dan alarm.
Foto di dalam pigura mengisi pandanganya ketika pertama kali waktu mulai berdetak.
“Lho, sudah pulang dari pasar?”
“Sudah, harga cabai melambung tinggi, aku hanya membeli baterai.”
“Oh, berita itu baru saja muncul di televisi.”
“Apakah televisi itu sejak tadi belum mati?”
“Televisi tak pernah mati, ia senantiasa menyiarkan berita-berita duka.”

Televisi adalah sebuah tabung 14inchi,
seluruh semesta pepat di dalamnya.
Sebuah titik cahaya, ada di dalam genggaman tangan.
Televisi telah mematikan imajinasi.

Halal ! Mamah tahu sendiri.
Diulang tiga kali seperti dzikir para kyai.
Zzzzztttttzztt

Berita di televisi: kebakaran hutan, harga cabai, harga daging, pembunuhan, peradilan, raung, sinabung, olahraga, parpol, kecelakaan, perceraian,  gosip, selebriti, munir, jokowi, ahok, pilgub, kabinet, menteri, dpr, mpr, transportasi, macet, pasar, buruh, pemerkosaan, sawah, sungai, kering, hutan, laut, angin, pendidikaan, penganiayaan, tawuran, penindassan, reklamasi, banjir, kemarau, hidup, sedih, mati, mati, mati, mati, mati, sedih, hidup.

Hay Televisi, apa kau punya kabar gembira?
Tentang ikan paus atau pernikahan jambu dengan pisang atau yang lainnya?

Pagi yang dini, televisi masih menyala.
Majikan belum sadar dari tidurnya,
pulas ditiduri berita duka.
Televisi nyingkruk kedinginan,
muncul pelangi di layar kaca,
basi hingga dirubung semut hitam dan semut putih.
Jam dinding dan foto di dalam pigura tidur
di atas televisi yang terus menyala.
Ketika bangun, jam dinding melihat majikan
sudah dimandikan oleh banyak orang, mandi tangisan.
Bendera putih layu di emperan.

Magelang-Jogja, 2015

Tuesday, 13 January 2015

Pertemuan Tahun Baru

Senja berjalan-jalan untuk meramaikan malam tahun baru,
ia berjanji akan bertemu Desember di kuburan.

Desember tidak datang, senja hanya menemui
kembang-kembang kering di atas makam.

Desember pilih menyepi di kamar sambil
menikmati saat-saat terakhirnya.
wajahnya layu, sesekali terkelebat terkelebat angin

Senja masih setia menunggu pacarnya di kuburan,
siapa tahu tiba-tiba nongol dari gelap malam.

Tengah malam menemani penantian Senja.
Ia tertidur; dalam dengkur bermimpi dicium
desember di pergantian malam.
"Bangun, ada rombongan jenazah datang."
Tiba-tiba pagi menepuk pipinya,
mengacaukan mimpi.

Desember datang bersama pengiring jenazah.

31 Desember 2014

Thursday, 19 June 2014

Lalu Pulang

Jarum jam berlomba dengan waktu;
saling membunuh, sepi tak pernah terbunuh,
malam mengeluh; hatinya peluh bercucuran, rindu
tak mampu berbicara tentang rasa, karena jauh.

Dan. Lalu..

Kaki terseret langkah, pulang bersama rindu;
jarak merengkuh, mendekap tempat berlabuh,
perjalanan di tempuh; menikmati lara, pudar biru
menyusuri jalan pulang, rumah tempat berteduh.

Dan. Lalu..

Waktu terus melaju, deru menderu biduk jalanku;
sepi mengaduh, rindu mulai dengan gaduh,
tak mampu meringkas jauh; betapa laraku,
hati menyimpan rindu, pulang bersama keluh.

Dan. Lalu..
Dan. Lalu..

Jangan lagi pulang,
jangan lagi datang,
rindu; pergi jauh.

*Pulang - Float.
Jogja, 4 juni 2014

Senja Di Bulan Juni

Hujan datang di bulan juni,
menyapa tanah basah dan bau wangi.
Angin lebat mengalir di atas sungai kemarau,
daun-daun kuning berjatuhan di halaman.
Terbaring sepi sebelum kau sapu di pagi hari.

Hujan di bulan juni adalah rindu yang telah
terbendung lama, dan telah mencapai batasnya.

Wajah Senja sumringah di atas bohon bambu,
mentereng jingga cantik di cakrawala.
Tahu Senja sudah menunggu, Pacar senja bergegas
mencari  mandi, gebyar-gebyur, nyanyi-nyanyi di kamar mandi.
Senja dan Pacar senja telah berjanji jalan-jalan di persawahan.

Pacar senja terlambat datang. Senja baru saja pergi
meninggalkan rumput-rumput basah di dalam suara adzan.
Pacar senja mencari-cari wajah Senja di cakrawala
yang telah gelap; lenyap, habis dimakan lanskap, 
malam selalu berkuasa di dalam gelap dan kesunyian.

Tiba-tiba ada yang datang, mengajak pulang
Pacar senja yang termenung sendirian.
Ternyata gerimis selalu menguntit di belakang,
“Mari kuantarkan pulang. Senja telah menyerahkanmu
kepada pelukanku, mari kita bermain di ranjang.”

Pacar senja memilih diam, di tepisnya
belaian gerimis yang cerewet dan nakal.
Pacar senja ingin sendiri, tidur-bermimpi
diciumi senja sampai pagi hari.


Ngawi, 19 juni 2014

Tuesday, 27 May 2014

Mati Lampu

Malam benar-benar telah menampakkan wujudnya.
Tanpa cahaya lampu; malam adalah gelap, waktu tentang kesunyian
seperti cangkir kopi tanpa campuran susu.
Bola lampu kehilangan nyawa, melayang-layang di udara
pada tiang-tiang di jalanan menggantungkan rindu,
pada dinding kamar bersandar akan harapan. Selalu berharap.
Lampu tak menyala, malam berkuasa.
Rumah yang menjadi tempat yang hangat kini
menjadi kosong, menganga di larut malam.

Belalang pohon nyaring bunyinya; percakapan tragis dengan malam.
Bola lampu mengapung di kesunyian,
ia tak kuasa, tak bercahaya.
Di kota ini sudah tidak ada matahari lagi,
matahari tidak suka gelap, ia berlari memburu fajar
di timur yang terang. Di sana memang benar terang.

Langit seakan menjadi bidang yang paling terang,
dengan kerlip bintang leluasa bertaburan
di atas rumput ilalang yang bergoyang-goyang.
"Bagaimana jika matahari tiba-tiba datang
dan menerangi kamar gelap ini?"
"Akan kupadamkan cahaya, kupeluk habis tubuhnya.
Ku jaga dia di sini, tak kubiarkan menyusuri jalan pulang".

Kupelihara matahari saat malam datang.

kamar kost. 27-05-2014

Tuesday, 8 April 2014

Langit di kaca jendela

Memandang langit dari kaca jendela;
awan-awan terlihat tebal, putih
bagai samudera yang membeku. Menjadi
pulau-pulau es di kutub bumi.

Betapa indahnya seumpama kita pergi kesana.
Berlibur; memancing ikan salmon, atau berkelana
dengan kereta anjing.

“Bagaimana jika kau kupanggil sekarang dan segera datang?”
Sebelum malam, jangan biarkan semua menjadi muram.


26 maret 2014

Di seberang jalan

Malam dan bola lampu sedang santai di warung kopi seberang jalan.
“Aku pesan kopi pahit, pakai gula sedikit  saja.” Kata lampu.
Ia sedang menjaga malam, menciptakan bayang-bayang di dalam kegelapan.
Bayangkan saja jika Alfa Edison tidak menemukan bola lampu,
orang  akan kesusahan mencari bayang-bayang di dalam gelap malam.

Warung kopi tampak remang dari seberang jalan;
cahaya lampu yang kuning menembus celah-celah gedhek rayapan.
Bayangan bermain-main disana; ada yang mirip burung, ada yang serupa harimau,
ada yang seperti ikan; berenang, melompat seperti lumba-lumba di permukaan.
Warung kopi tampak seperti kebun binatang dari seberang jalan.

Bola lampu suka malam, memang begitulah  pada hakekatnya.
Saat malam, bola lampu akan lebih banyak diperhatikan.
Ia sedih saat pagi datang, dan saat siang; bola lampu akan diabaikan.

Ada yang sedang mendengarkan percakapan lampu dan malam dari seberang jalan.
Penyair selalu berfilosofi tentang apa saja yang saat itu sedang ditemuinya.
Mata yang teliti, sadar akan benda-benda di sekelilingnya.

Tiba-tiba pandangannya buyar ketika bola lampu menyebutnya.
“Hey su, apa kepalamu tidak merasa bising ketika
kau dengar semua benda itu bercakap?”
“Ah, aku sahabat malam, olehnya aku terselamatakan dari  kesunyian”.


25 maret 2014

Cangkir di bawah lampu

Sudah tak ada lagi warna-warni di cangkir kopiku kini,
sempat aku melihat wajah yang tak asing lagi
di dalam cangkir kopi; terpantul dari cahaya lampu kamar.
“Dialah wajah yang sering kutemui saat sedang sendiri”
Nyruput kopi , melempar pandang ke arah jendela;
ternyata hari sudah padam, tak ada bulan bintang di langit
yang rapat tertutup gelap, tak ada celah untuk sinar kecilnya.
Memang, tugas bola lampu adalah menciptakan bayang dalam malam.



20 maret 2014

Tuesday, 4 March 2014

Dompet

Dompet mbladus, dompetku yang lusuh
masih setia kugembol di dalam saku celana.
Jika lapar adalah satu-satunya cara 
untuk bertahan hidup, aku masih menyimpan
sebuah pedang dan seorang kapittan di dalam dompet.

Pattimura harta yang berharga,
Pattimura tak pernah kehilangan kharisma.
Jika lapar mengusik ketenangan perut kecil ini,
biar sang kapittan menebas dengan pedangnya.

Pattimura pahlawan rakyat jelata,
sifat-sifat kabaresi, jiwa kesatria.
Pergilah lapar, jika tak ingin tebasan pedang
seperti pasukan belanda yang kalang kabut
oleh panglima perang Pattimura.

04-03-2014

Saturday, 1 March 2014

Puisi: Siang Hari

#Menjaga Jemuran.
Siang masih berjaga dengan mendung hitam.
Siapa tahu tiba-tiba hujan datang, ia harus
siap menyelamatkan jemuran.

#Ayam
Ayam masih ramai petok-petok dalam siang.
Mendengarnya aku teringat pada teman
yang mulutnya pandai menirukan berbagai macam
suara binatang: termasuk juga ayam.
Mungkin yang berkokok di belakang itu temanku
menjelma ayam.

#Rincik Air
Rumah sedang sepi: di sini sudah tak ada kamu lagi.
Hanya terdengar suara keran bocor di kamar mandi.

#Kantuk
Dinding terus berdetak karena ditinggalkan oleh jam.
Ia menggenggam jarum jam yang terus berputar
menimbulkan "tik tok" di samping kalender.
Dinding suka bunyi-bunyian, ia tidur dalam kantukku.

#Televisi
Televisiku yang paling berbahagia
meski semesta telah pepat dalam tabung dan layarnya,
televisi tak pernah menyala.
Ia suka mencabut colokan dari outlet listrik, mengimajinasikan
apa saja yang bisa muncul ke layarnya: bisa pinguin
di kutub utara, ikan paus di laut, juga tubuhmu tentunya.

#Jemuran
Matahari sangat terik membuka cakrawala.
Awan-awan mungil menari dan berdansa
merayakan sinar sang surya.
Bunga-bungaku bermekaran di kawat jemuran
menunggu kumbang-kumbang berdatangan.

#Jendela
Sengaja kubuka jendela supaya angin bisa masuk
ke dalam kamarku yang lembab. Kepalaku juga penat.
Untung saja ada jendela, aku bisa melihat
warna-warna di luar sana.

#Rintik Hujan
Saat hari panas, kita suka berbicara tentang hujan
di musim kemarau yang panjang.
Kataku, itu adalah rintik air mataku yang rindu
dan tak pernah bisa kauterjemahkan dengan matamu.

#Mantel Hujan
Di antara deretan jemuran, aku melihat mantel
yang pernah kau kenakan saat menikmati hujan bersamaku.
Mantel itu kau titipkan kepadaku. Tinggalkanlah, kataku:
biar aku yang menjaga mantelmu dengan rapi
agar kau bisa memakainya saat merayakan hujan
bersamaku lagi di lain hari.

01-03-14

Friday, 28 February 2014

Surat Senja

Kupenuhi isyarat panggilanmu sore itu.
Aku datang lebih dahulu, setelah lama menunggu
akhirnya kujumpai tubuhmu.

Kita duduk berdua di sawah pinggiran desa.
Sungai mengalir deras, kaki-kaki kita berkecipak
ongkang-ongkang asyik bermain air. Hatiku banjir.
Menggenang, menjadi kolam bening dan tenang.

Senja berada pada puncaknya, tak malu-malu
kupeluk tubuhmu yang jingga: aku merasa hangat
dalam warna-warna cakrawala. Kutemukan bibirmu,
kujelajahi garis lengkuk awan mungil itu.

Kau mestinya tak perlu bertanya: sebab
aku mencintaimu. Lalu yang kutanyakan
adalah rindu yang selalu menggantung untuk bertemu.

Waktumu sebentar lagi akan habis, senja.
Malam akan mengembara menjemputmu di timur sana.
Saat itu, aku memilih tidur untuk memimpikanmu:
walau jelas hanya terjaga karena merindu. Berharap kau
berlabuh dalam mimpi dan nyingkrung malamku.

Rindu bagai mendung hitam kelam
yang mampu menebar jarak di cakrawala.

Senja telah pergi tanpa mengucap kata
setelah tubuhmu habis oleh peluk dan cium.
Kalau bertemu, silahkan balas lain waktu.

28-02-14

*catatan senja



Monday, 6 January 2014

Baju Ibu

Kedua anak itu baru pulang dari pengajian
bersama ibu dan bapak mereka
di masjid, kiai mubaligh berceramah
tentang pendidikan anak di dalam agama

Anak-anak memperhatikan dengan seksama.
Sesampainya di rumah, ibu dan bapak
langsung tidur karena lelah setelah pengajian
sementara anak-anak memilih menonton tv
sambil mengumpulkan mengantuk mereka.

Kebetulan acara tv menyuguhkan film
dengan label dewasa. Anak-anak menontonnya.
Pemeran perempuan dalam film tersebut
memakai busana mini yang disensor
pada bagian dada.

Anak-anak penasaran dan bertanya-tanya
ada apa dibalik baju mini yang dikenakan
perempuan dalam film di tv. Kenapa disensor?
Anak-anak penasaran dan ingin mencari tahu,
kemudian mereka masuk ke kamar
dan menggerayahi sekitaran dada ibu
yang telah tertidur dengan pulas karena kecapaian.

Mereka menemukan gunukan daging
yang empuk dan kenyal.
"Apa ini, kok enak?" Tanya si bungsu.
Mereka merasa asyik meremasi payudara ibu
hingga membuat mereka semakin penasaran
lalu dibukanya baju yang dikenakan ibu.

Ibu tertidur semakin pulas..

01.2014

hujan turun di dalam kepalaku

Etalase mengigil kedinginan tanpa kaca jendela
kasihan, dia tak mampu menghentikan hujan
yang telah menghamili otakku
setelah enam bulan menggumpal di kepala
akhirnya meledak! Menghasilkan butiran air
mengkristal dan membasahi tanah.

01.  2014

Mengawali Tahun

Desember menyisakan gerimis 
kepada januari yang masih muda
bergemericik berdesik-desik 
terdengar dari celah jendela.

01. 2014

Sunday, 29 December 2013

Jalan Pulang

Pagi sekali bapak-bapak
sudah berangkat bergotong royong 
membersihkan jalan di kuburan. 
Ada yang membawa cangkul, bogem, sabit, sabit? 
ada juga yang tidak membawa apa-apa. 
Mereka meratakan jalan 
yang baru saja mendapat material urug, 
merapikan jalan mereka sendiri 
besok-besok kalau pulang ke rumah jalannya sudah nyaman.
Enak bagi pemikul keranda dan para pengantar janazahnya.
Yang paling ngeri: "Hari ini yang tidak hadir,
besok tidak boleh lewat jalan ini."

Di sebelah selatan, gunung lawu terlihat ngantuk
dengan langitnya yang cerah
tidak berawan tidak juga kepanasan.
Aku melihat rombonganmu menuruni puncak
setelah semalam mengigil di hargo dalem
setelah sarapan nasi pecel Mbok YEM.
Kau tampak lelah membawa tas yang berat
berisi nama mama dan papamu,
lihatlah mereka tersenyum padamu.
Kini kau tersesat. Selamat!,
terus saja melangkah, karena tersesat
adalah satu-satunya jalan pulang.
Di kuburan...
warga desa mengucapkan "Selamat Datang"

Ngawi, Desember 2013

Merayakan Kopi

Kita semua memesan kopi
cangkir yang mungil
penuh percakapan rindu.
"Setiap kebersamaan harus dirayakan
dengan secangkir kopi."
"Kita punya cara sendiri
untuk berbagi." Katamu.
Ya, kami biasa sruput sruput
cangkir teman yang lain.
Termasuk kopi susumu.

12.2013

Tuesday, 24 December 2013

Rasan-rasan

Malam di angkringan saat ini terasa sunyi
bersama rintik gerimis melintas di depan lampu kota
suatu keindahan waktu yang tersembunyi
menanti siapa saja yang ingin menikmatinya.

Semakin deras, Hujan berkata, "Berteduhlah,
di angkringan pesan kopi dan gorengan.
Biar aku yang menjaga jalan ini."

"Aku sudah memakai mantel dan juga helm,
sepatuku waterproof. Aku siap menjaga malam
meski kau menghalangi pandangan orang-orang
di angkringan, aku sahabat mereka."

Lalu hujan menghantam aspal
menyusup ke dalam selokan
lenyap bersama kesunyian

Langit masih saja mengucurkan air matanya.
Rupanya, sang Atid sedang menangis 
karena kehabisan buku dan sore tadi
belum sempat mampir ke toko buku.

Orang angkringan suka rasan-rasan.


Ngawi, 22 Desember 2013

Thursday, 19 December 2013

petrichor pagi

gerimis di pagi hari
suara gemericik terdengar dari jendela
mereka berjatuhan di atas genteng
lalu menjadi butir butir kecil yang jernih
terpelanting ke pohon: ranting dan daun-daun
tergelincir membasahi tanah
menimbulkan bau yang memabukkan tertiup angin

Yogya, 19 desember 2013

berangkat ke sekolah di pagi hari

berangkat ke sekolah di pagi hari
merapi merasa geli tergelitik awan-awannya yang mungil
merbabu masih malu-malu dibelakannya
dari timur, sang surya menebar cakra
menjadi embun pagi melalui syair yang indah
sesejuk seteduh tatapanmu yang mengendap
di jiwa..

mendung hitam menggumpal di atas kota
pagi ini akan segera turun hujan: pikirku

Yogya, 19 desember 2013

Wednesday, 11 December 2013

Hujan 2

Hujan.
Yang ini namanya Dewi,
ia agak beringas, datang lumayan deras
membawa angin bersama setiap derupnya.
Sore ini kami bercerita tentang pulau bajak laut
dan manusia ha ha
sambil ngeteh di etalase jendela.
Aku menikmati setiap alunan rintiknya.

Yang kemarin pagi namanya Ellie,
ia penyayang: menemani perjalananku ke sekolah.
ku bonceng di depan
karena jok belakang telah lenyap semalam.
wajahnya terlihat ayu, rambutnya panjang
dengan semerbak petrichor dan tanah basah.

Ayo malam ini siapa yang mau datang?
Kuajak skatenan atau ke festival
Robin, Lusi, Mega? ayoo siapa..

Yogja, 11-12-13. Hari yang cantik untuk bermain hujan.