Showing posts with label nyenja. Show all posts
Showing posts with label nyenja. Show all posts

Friday, 13 November 2015

Seperti Batu

(bukan sebuah cerita yang baik)

Hari kerja. Waktu menganga diambang pulang. Jam setengah tiga. Menjelang sore. Senja masih berdandan untuk sebuah pertunjukan yang megah, sore nanti, ketika matahari diletakkan sejengkal dari batas bumi, batas pandangan, sebuah pertunjukkan singkat yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pecandu senja, ada juga yang mengaku-ngaku sebagai teman senja, sahabat senja, pacar senja, ah, siapa saja boleh memiliki senja, memiliki makna keindahan, makna sebuah perjalanan; perpisahan. Tentu saja senja tak selamanya jingga dan indah. Begitu juga dengan sebuah perpisahan yang tak selamnya indah untuk di kenang. Sebuah perpisahan yang indah tentu telah melewati suatu proses perjalanan yang panjang dan punya banyak cerita; bermakna. Sebuah cerita bisa diukir, sebuah makna bisa dicerna, semuanya ada dalam sebuah perjalanan. Setiap perjalanan tak mungkin terlewat dari sebuah makna, walau sangat sederhana. Makna akan selalu membangun hidup. Hidup adalah sebuah rangkainan makna yang panjang. Sebuah perjalanan. Jika dalam hidup, manusia tak bisa menemukan maknanya, maka hidupnya akan terasa hampa, rugi sekali. Kau pikir untuk apa hidup itu? Hidup adalah sebuah filsafat yang luas. Saking luasnya, anak kecilpun mampu menemukan filsafat tentang hidupnya. Setiap hari kita selalu bertemu hidup; di rumah bertemu hidup, di jalan bertemu hidup, di sekolah bertemu hidup, di pasar bertemu hidup, di meja makan bertemu hidup, di kamar mandi bertemu hidup, di atas pohon pisang bertemu hidup, di lubang-lubang tanah bertemu hidup, dalam dirimu kau bertemu hidup. Hidup adalah semua ruh, angin yang bertiup santai mengoyangkan daun-daun pohon jambu, cahaya pagi yang membuat bunga-bunga bermekaran, gelap yang selalu menciptakan bayang-bayang.

Tuesday, 13 January 2015

HORE DESEMBER.

Desember, adalah bulan baik untuk para pecinta hujan. Menikmati secangkir teh di pagi hari, O indah sekali ketika hujan rintik menemani. Tanah basah hujan reda dan gerimis sisa, O itu sangat memabukkan ketika muncul bau wangi. Aku suka hujan.

"Apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela? Apakah yang kau tangkap dari bau tanah, dari rincik air yang turun di selokan?"
Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan, membayangkan rahasia daun basah serta ketukan yang berulang.
"Tak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri yang di balik pintu memimpikan ketukan itu, memimpikan sapa pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit, dari titik air yang menggelincir dari daun dekat jendela itu. Atau memimpikan semacam suku kata yang akan mengantarmu tidur."
Barangkali sudah terlalu sering ia mendengarkanya, dan tak lagi mengenalnya.

-          - Sapardi Djoko Damono.

Friday, 5 December 2014

Journal Liburan “Summer Time”



Juni 2014

“Tapi yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi. (Sapardi, 1978)

Masa perkuliahan semester empat berakhir di bulan juni. Setelah menjalani aktivitas kuliah yang membosankan dan melewati ujian akhir praktik-teori yang melelahkan, akhirnya malam tiba juga, malam yang kunantikan sejak awal, malam yang menjawab akhir kita, inikah akhir yang kita ciptakan...sek sek, salah fokus haha. Akhirnya liburan tiba. School out, holiday in! Liburan musim panas kali saya awali dengan pendakian ke gunung merbabu, ini adalah kali kedua saya ke merbabu “Langkah Kecil Nyotho Ing Merbabu.” Ya, setiap perjalanan yang saya lakukan akan saya namai Langkah Kecil, nama baru yang saya temukan dalam perjalanan. Saya memang suka dengan perjalanan. Tuhan beri kita jalan dan waktu, maka berjalanlah jauh, bawa langkahmu tersesat ke dalam tanda tanya (?)

“tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni....”

14-15 Juni 2014, Langkah Kecil Merbabu ini dijalani oleh tiga orang peserta; Saya, Wahyu, dan Singgih. Langkah Kecil mendaki melalui jalur Selo yang pada saat itu ketiga peserta belum ada pengalaman di jalur itu. Dengan niat dan hati yang bersih, Langkah Kecil berhasil mencapai puncak trianggulasi dengan trek pendakian yang lumayan berat. Untuk sampai menuju puncak dari jalur selo akan menyebrangi beberapa bukit dan melewati jalur punggungan sapi, trek kelas berat untuk pendaki pemula seperti kami ini.

Perjalanan dimulai sekitar pukul setengah sembilan malam waktu bagian boyolali dan sekitarnya. Sampai di camp area sabana II sudah sekitar pukul setengah satu dini hari. Pagi yang dini, matahari masih nyingkruk di pelukan bumi. Kami harus mendirikan tenda dalam keadaan tubuh menggigil dan melawan angin yang kencang waktu itu. Urung niat kami untuk menaklukkan puncak sebelum matahari membangunkan pagi.

“Dingin pak, bapak mau mati membiru di puncak?”
“Iya, dingin. Mending melanjutkan tidur yang berharga ini.”
Treking ke puncak dilakukan setelah matahari mulai meninggi, mlangkring di pinggiran bukit menghangatkan pagi. Dari sabana II sudah terlihat puncak yang terpisah jarak. Ah, berapapun jarak jika dijalani dengan hati yang ikhlas dan semangat hanya akan terasa selangkah.
Pendakian sukses, dan Langkah Kecil Merbabu berakhir dengan bahagia. Nyotho Ing Merbabu.











































merbabu edisi ramadhan.



























Juli 2014
Tidak ada perjalanan keluar di bulan Juli karena bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga waktu tidak mengijinkan. Di bulan Juli mungkin hanya ada beberapa acara kecil; ngangkring (setiap hari), buka bersama, kumpul handai taulan, dan halal bihalal.

19 Juli. Buber bigfamz CORO; Saya, Rosi, Kak AW, Momo, Tyas, Nias, Iwed, dan ketambahan Wening. Buber di rumah makan Suminar, spesial gurami bakar. Dalam Kebersamaan yang mewah

25 Juli, Buber coro. Teman kelas SMA. Orang-orang yang selalu saya rindukan walau waktu masih sering mempertemukan tangan-tangan kita. Buka bersama tahun ini digelar di rumah makan. Untuk pertamakalinya setelah dua tahun sebelumnya selalu di rumah Momo. Buber dihadiri hanya 19 pesrta dari 32 jumlah keluarga kelas. Umur semakin tua, waktu semakin langka, kebersamaan dalam cangkir kopi semakin purba. Ya, memang susah untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga kelas dengan segala kesibukan dan kepentingan hidup yang berbeda-beda. Pada akhirnya, hiduplah yang akan memisahkan kita. Namun seiring berjalannya waktu, akan menyisakan beberapa kepala yang itu akan selalu saya rangkul dalam ikatan sahabat. Saya sangat berterima kasih kepada sahabat, hadirnya menemani perjalanan saya.
Setelah acara buber selesai, rombongan pindah ke angkringan depan diknas Ngawi. Angkringan tetap sedjak masa remadja, SMA.
Thanks for Momo, Rosi, dan Kak Aw















































































27 Juli. Buber SD. Buber digelar di rumah Iis. K. Yang ini malah lebih parah, hanya 8 orang yang hadir. Teman seangkatan SD sudah memiliki kehidupan yang lebih kompleks; ada yang kerja di luar jawa, ada yang sudah menikah, punya anak, dan ada pula yang sudah jadi janda haha. Ndocill..rondho cilik.


















Agustus 2014


2 Agustus. Halal Bihalal MAYAPADA

4-6 Agustus. Agenda liburan BigFamz Coro musim panas ini ke Pantai Goa Cina, Malang. Pantai ini dinamakan GoCin karena dahulu ada seorang pertapa cina yang melakukan aktivitas pertapaan di sebuah gua pantai tersebut. Kemudian dia muksa bersama raganya di gua tersebut.  Peserta Langkah Kecil GoCin; Saya, Kak AW, Rosi, Tyas, Zaki, Babon, dan Bayu. Berangkat dari Ngawi menggunakan sepeda motor dengan perjalanan jauh dan sangat melelahkan. Total waktu dari Ngawi kira-kira 7-8 jam jalan. Saat itu tiba di GoCin sudah malam. Rencana awal kami hanya camp semalam saja, namun karena kami merasa tersakiti oleh perjalanan yang jauh, akhirnya kami putuskan untuk menambah satu malam lagi. Jadi dua malam di pantai, yess!

Malam pertama hanya terisi oleh klemah-klemah di pasir dan tenda karena terlalu lelah dalam perjalanan. Tidak ada api unggun, Saya dan Babon mencari kayu untuk menambah kehangatan suasana malam. Api menyala, percakapan kayu dengan api dimulai, sebelum hangus menjadi abu. Bintang-bintang bagai pasir terbang ke langit, berkerlap-kerlip-berjatuhan. Suara ombak menyatakan bahwa kami memang benar-benar di pantai selatan. Tak ada yang tahu seberapa karang yang terkikis oleh ombak pada malam itu. Semua larut dalam lelah, hanya Saya dan Babon yang tertinggal di depan api. Semua telah lelap.

Malam terasa sangat panjang. Satu-persatu mereka bergabung dengan kami di api unggun. Semua kembali menyala. Kami membuat permainan “jawab jujur”. Sembari mengisi curhatan malam. Dan, saya mendapat mata pisau dari babon. Dia ingin aku bercerita tentang kejelasan hubungan saya dengan rosi. Ya, semua itu ada prosesnya. Dan saya tidak mau memaksa. Semakin lama permainan itu terasa membosankan, dan mata mulai layu.

Saya memilih untuk tidur di atas pasir seperti biasa, nyaman. Perkelahian malam dengan bulan telah melahirkan pagi yang dini. Angin berhembus kencang, dini hari kedinginan. Tak ada dialog yang sederhana kecuali nyingkruk mencari kehangatan. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur di dalam masjid. Di sana saya mendapatkan tidur dan mimpi mistis pantai selatan.

Pagi berkicau; matahari membangunkan seisi alam semesta. Siang membuntutinya di belakang. Pantai semakin ramai. Banyak tante-tante, ciwai-ciwai seksi. Ini pantai! Sehari itu saya mandi di pantai tiga kali, pagi siang, sore. Lengkap. Teman-teman membeli ikan di TPI untuk dimasak dan bakar malam. Kami makan enak hari itu. Sore cumi, malam ikan bakar. Malam kedua berlalu begitu saja. Pagi berkemas segera meninggalkan pantai dan kembali ke Malang. Sampai di malang istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan ke Ngawi. Begitupun sampai di Ngawi sudah jam 1 pagi. “Aku Lelah”.




























































14-19 Agustus. Asu. Babon mengajak ke Arjuna-Welirang. Gass! “Langkah Kecil Arjuna” dengan peserta; Saya, Babon, dan dua teman Babon dari Jakarta, Kribo dan Gudel. Langkah Kecil kali ini adalah yang paling menyesakkan. Ya, kami gagal melihat puncak gunung. Perih memang, namun Saya mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari perjalanan ini. Gunung adalah tempat sakral, jangan sekali-kali mendaki dengan hati yang kotor. Sebetulnya perjalanan ini bukanlah sebuah kegagalan, karena tidak ada kegagalan dalam mendaki gunung. Semua pendakian adalah sebuah keberhasilan jika kita bisa menggambil himah dari perjalanan yang kita lakukan. Langkah Kecil jee..





















Setelah turun dari gunung, Kribo mengajak kami untuk mencari hiburan ke pantai. “Yaelah bo, pantai lagi.” Yasudah, saya menuruti. Kasian mereka datang jauh dari jakarta tidak dapat apa-apa.


Next destination adalah Pulau Sempu. Wilayah “Cagar Alam” yang masih masuk daerah Sendang Biru, Malang. Kami dua malam di Sempu, camp di Segara Anakan. Sempu, segara anakan; pantai tanpa ombak itu membosankan. Namun yang menyenangkan dari segara anakan adalah tebing karangnya yang bisa digunakan untuk terjun langsung ke air dengan kedalaman sampai 3 meter. Kawasan sempu masih dihuni oleh berbagai macam hewan-hewan liar; kera, lutung, siamang, burung, kijang, kancil, badak, dan harimau, dan lain-lainnya. Vegetasi hutan juga masih terjaga. Namun seiring dengan semakin banyaknya wisatawan yang masuk ke kawasan cagar alam ini, saya tidak jamin kelestarian hutan tidak akan bertahan lama. #SaveSempu #SempuCagarAlam #SempuBukanWisata. “Lha awakmu kok dolan rono mas?”























September 2014.

2-3 September. Langkah Kecil Lawu. Niat pendakian ini adalah untuk menutup masa liburan yang akan segerai usai. Napas panjang telah berlalu dengan segala susah senang di dalamnnya. Setiap perjalanan akan selalu memberikan makna. Maka berjalanlah jauh dari rumah.

Anggota Langkah Kecil Lawu adalah teman-teman kampung halaman; deni, gading, imam, titis, saya. Sedikit cerita dari pendakian ini, sampai di Hargo Dalem kami mendapati pintu warung Mbok Yem terkunci. Yah, mbok yemnya turun. Lawu kwok kwok, sepi. Untungnya kami membawa peralatan lengkap, saya tidak pernah menganggap remeh gunung, lawu sekalipun yang ada warung nasi di puncak.

Lawu malam itu sangat dingin, angin lumayan kencang. Kami mendirikan tenda di rumah seng-sengan di Hargo Dalem. Niat saya untuk meditasi di hargo dalem urung karena dingin. Malam terasa begitu panjang, matahari terlambat datang. Kami menikmati malam dengan gigil. Yey, saya selalu suka ketika mengigil di puncak. saya suka sensasi ketika malam tak habis-habisnya dan pagi tak kunjung tiba, dalam malam terjaga menunggu pagi. Tidak bisa tidur. Namun ada yang indah pagi itu, walau mata melewatkan lahirnya matahari. Pandangan cerah, gunung-gunung timur semua tampak; kelud, arjuna, welirang, mahameru. Gunung-gunng barat; merapi, merbabu, sumbing, sindoro, slamet. Kami dapat untung sepagi itu.

Dalam perjalanan turun, saya dapat sms dari heri, “bud alat mendakimu mau saya pinjam, ke merbabu.” “oke, saya ikut.” Gasss!!


6-7 September. Langkah Kecil Merbabu Part II. Saya, heri, siti, arif, lantip, mas joko. Melalui jalur yang sama, Selo, Boyolali. Belum bosan dengan punggungan sapi dan bukit-bukit brutall. Ketika itu minggu terakhir masa liburan semester. Senin mulai masuk kuliah. Yah. Tidak ada cerita yang menarik. Kali ini saya memilih tidur di puncak daripada foto-foto dengan awan. Sudah mulai bosan. Ingin lebih merasakan kedamainan puncak, resapan angin, belaian dingin, tenang, damai, and i want to feel like i am free, to be me. Yak, menjadi diriku sendiri adalah hal besar yang ingin selalu saya lakukan.

Kuliah mulai jalan. Namun “summer time” tidak berhenti disini. :D Saya masih ingin habiskan matahari sampai ia purba di penghujan.

Next; 20-21 September. Langkah Kecil Camp di Sepanjang. Saya, siti, wawan, sarkum, arif, imam, dan dua teman arif. Agenda ini hanya untuk mengisi kekosongan waktu karena saya tidak pulang ke Ngawi gegara ada test pro-tefl untuk yang ketiga kalinya. Saya sudah bawa peralatan; panci, kompor, flysheet dan sebagainya ketika test. Rodokenthir. Tapi hasil test saya lulus :D akhirnya.
Kami hanya santai-santai di pantai; api-api, tidur di pasir, main air. Tak ada cerita yang spesial di perjalanan kali ini.


Oktober 2014
11-12 Oktober. Langkah Kecil Sumbing.  Sudah, ini yang terakhir. Menutup “Summer Time” dalam tulisan ini. walau selanjutnya masih ada agenda Lawu. Saya, heri, siti, dan topan. Pendakian dilakukan lewat jalur Garung, Wonosobo. Kami jalan dengan persiapan yang matang. Jadi, tenang..saya telah siap dalam pendakian, semua telah dipersiapkan dan dipertimbangkan secara matang.

Start dimulai pukul sebelas pagi. Dari basecamp stick pala, kami lewat jalur lama. Keluar dari desa melewatu perkebunan warga. Jalur ini yang memutuskan asa, tak terkecuali untuk topan yang baru pertama kali melakukan aktivitas pendakian. Jalur berupa jalan batu yang biasa dilewati oleh pengantar pupuk kebun dan ojek-ojek gunung.motornya sangar pak, mereka kebut-kebutan di gunung. Mirip balapan MTB kelas dunia.
Dari basecamp, kami sampai di pos 1 Malim pukul setengah satu siang. Pos 1 berupa tanah lapang dengan vegetasi yang rimbun, sejuk.  Mulai dari pos 1 naik trek sudah mulai tanah yang berdebu di musim kemarau seperti ini. Namun trek sudah sedikit enak dibanding sebelumnya, landai dan hanya sedikit nanjak sebelum sampai di pos 2 Genus, pukul dua siang. Kami mengisi tenaga dengan nata de coco dan roti, bekal untuk melanjutkan perjalanan. Setelah genus akan mendaki bukit dengan pasir berdebu. Lumayan berat, namun hanya satu jam dari Genus. Pos 3 Seduplak Roto pukul empat lewat duapuluh menit. Sore. Sedikit naik dari pos 3 akan langsung bertemu dengan tanah lapang, sebelum pestan. Saya putuskan untuk mendirikan camp di sini, karena pertimbangan di atas, pestan akan sangat rawan terhadap badai. Di watu kotak hanya ada sedikit tanah lapang, daripada tidak dapat tempat mendingan kami membuat tenda di bawah pestan.

Tenda berdiri, Senja muncul di batas cakrawala. Saya tak ingin kehilangan moment ketemu senja. Senja dan pacar senja kembali bersama. Cium cium senja. Kali ini saya tak linglung oleh senyuman senja, malah ia habis di ujung bibir pacar senja.

Senja, kan ku tebas semua jarak di cakrawala. Agar aku bisa mencintaimu selamanya.
Malam datang, kami menyiapkan makan malam. Walau hanya mie instan, namun makan wakyu itu terasa berbeda. Mungkin karna senja yang menyiapkannya. Malam berlalu begitu saja; api-api dan tidur yang nyenyak ditimang-timang senja. Pacar senja tidur memimpikan senja. Senja berkelana menemui pacar senja. Uopotopak, duh-,-

Pagi menyambut matahari yang mulai meninggi, kami segera meninggalkan tidur dan bersiap summit puncak. Mengingat puncak masih tiga jam dari pestan. Dari camp start pukul enam pagi. Mendaki trek yang lumayan tajam, sampai di pasar watu pukul tujuh pagi. Banyak batu, 360 batu. Tertawalah kawan... dari pasar watu ke watu kotak satu jam jalan. Kami sampai puncak sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Kami kurang beruntung, dapat kabut. Sindoro malu di kabut-kabut yang sepi. Kami tak bisa menikmati waktu, diburu waktu karena kami sewa alat. Harus kembali tepat waktu

Turun ke camp, masak, packing, lalu PULANGGGGG...




Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari (Sapardi, 1971)
waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.

-Oktober 2014

Tuesday, 7 October 2014

Cerita Gede-Pangrango (Kedua) - Puncak Gede

Budi meletakkan tas keril di teras sebuah warung makan, kemudian diikuti oleh Babon dan teman-teman lainnya. Perut mereka sudah merasa sangat lapar. Belum diisi sejak sore. Hari baru telah lahir kembali. Dan saat itu masih pagi. Kabut dingin membuat perut semakin merasakan lapar. Suasana desa sangat sepi. Beberapa warga bergotong royong membenahi jalan yang berlubang di sana-sini, menurunkan material tanah dari mobil pick-up warna hitam. Jalan menuju Gunung Putri Gate sudah nampak di depan; makadam, menanjak, jalan kecil yang membelah perumahan, tampak sepi dengan kabut yang menyelimuti bukit di belakang. Mereka simpan dulu pandangan. Perut sudah tak bisa dibujuk, mereka memutuskan untuk makan pagi di warung, satu-satunya warung makan di pagi itu. “Kita makan dulu di sini sambil rehat sejenak mengenakkan badan setelah perjalanan panjang di kereta semalam.” Ajak Budi kepada teman-teman dengan nada bahagia karena telah sampai di desa terakhir sebelum memulai pendakian. Mereka cukup lelah dalam kereta semalam, mata tak mendapat tidur, hanya sebentar terhibur di dalam bus dari Kampung Rambutan menuju Cipanas. Namun, rasa senang mengalahkan mata lelah. Kantuk tak mampu menguasai mata mereka, walau terasa perih dan merah kering. Suasana makan sangat dingin, nasi yang baru keluar dari magic com tidak begitu terasa panas. Mereka makan dengan cepat saja, walau porsi makan masih kurang untuk ukuran perut para pejalan malam ini. Di  daerah itu, makan  termasuk barang yang mahal, harus pikir-pikir dahulu ketika memilih tempat makan, itu pun kalau ada pilihan, kalau tidak, terpaksa bayar dengan harga mahal. Memperjuangkan hidup di kota itu memang susah. Semua yang berbicara adalah uang. Setelah makan, mereka santai-santai di warung sambil membagi obrolan dengan pagi.

Thursday, 29 May 2014

Gede-Pangrango; Cerita Pertama

Di Kereta

Aku berangkat meninggalkan bosan di kelas yang penuh dengan kursi-kursi besi yang angkuh, kursi berdebu, tua, karatan, kursi dengan busa yang sudah tak utuh lagi, kadang juga tidak simetris, sudah tidak mampu berdiri dengan tegak, kursi yang menjadi duduk berhari-hari, dalam ruang kelas yang pengap, hampa, terlalu banyak ocehan, aku merasa terasing dengan keadaan itu. Di kelas itu (kuliah) membosankan. Aku rindu kursi kayu.

Selasa. Perjalanan ini dimulai ketika senja dibingkai kaca jendela. Kereta berangkat meninggalkan jogja pukul 05.40, saat senja senyum-senyum di etalase jendela. Pemberangkatan telat tiga puluh menit dari jadwal, jam karet! Segenap doa dituju pada Tuhan, manusia menggantungkan segala hidup kepadaNya. Kereta melaju dengan cepat, memburu gelap, berlari ke tempat senja yang dengan santainya masih senyum-senyum ketika mulai ditelan malam. Lampu kota mulai menyala, beramai-ramai merayakan tugasnya. Lanskap menjadi buram, kereta berpacu menyusuri rel yang tertata rapi, terbaring berjajar diatas bantal-bantal beton, beralaskan batu-batu yang sejatinya adalah bongkahan debu.

Sunday, 4 May 2014

Laku ing Gunung Lawu

Gunung, hutan. Ngawi adalah kota kecil yang terletak di sebelah utara gunung lawu. Walau kabupaten ngawi termasuk daerah yang luas, namun aku menyebutnya kota yang kecil karena peradaban manusia di ngawi masih jauh bila dibanding dengan kota-kota seperti madiun, solo dan jogja. Pendidikan, sosial, budaya ngawi masih kalah jauh dengan mereka. Tapi jangan salah, untuk kimcil-kimcil ngawi, aku bilang perkembangannya sangat pesat. Orang ngawi (yang berpendidikan) tak bisa bangga dengan itu. Setiap sore di malam minggu, jalanan di ngawi akan sangat ramai dengan cabe-cabean dengan pakaian yang kupikir para pembaca sudah tahu sendiri bagaimana modelnya. Malamnya akan diganti dengan purel-purel karaokean. Aku prihatin, mau jadi apa kotaku ini.

Sebagian wilayah kabupaten ngawi berada di lereng gunung lawu; di kecamatan kendal, jogorogo, ngrambe dan sine. Dulu waktu masih kecil aku punya keinginan naik gunung dan melihat apa yang ada dibalik bukit-bukit yang tinggi itu. Sempat berpikir bahwa dunia ini dibatasi oleh gunung lawu di sebelah selatan. Namun ilmu pengetahuan tentang alam di sekolah dasar membantahnya. Ternyata dunia itu luas. Tentu membuat semakin penasaran apa yang ada dibalik gunung besar dan hijau itu. Waktu kecil, Bapak sering mengajak piknik ke gunung-gunung dan hutan. Masih dengan kendaraan L2-Super waktu itu. Menyusuri jalanan yang tak pernah berujung mesti telah membelah gunung. Dari situ aku mulai mengenal tentang alam. Mencintai alam, itu alamiah; seperti orang haus dan butuh minum. Maka jatuh cinta itu sah, yang dilarang agama adalah berzina. Jadi sah saja jika aku mencintaimu, sayang padamu. Orang tua tak sepaham dengan ini. 

Monday, 14 April 2014

Merbabu, berkabut namaMu

Ah, perempuan pendaki. Selalu membuat aku jatuh cinta. Betapa keren-nya perempuan yang menenteng keril di pundaknya itu. Aura wajah yang penuh warna. Menggambarkan bahwa mereka adalah puan-puan yang asyik, selalu rame penuh tawa. Sungguh membuat iri ketika melihat mereka mendaki bersama kekasihnya. “Hey ros, kamu dimana? Kapan kita naik gunung berdua? Biar kita terlihat sepasang kekasih yang penuh mesra” Haha. Melihat perempuan-perempuan gunung; ingin culik satu, masukkan keril, bawa pulang, trus tak rabi. Aku ingin mendaki bersama anak-istri, begitu asyik sepertinya. Alangkah indahnya setiap bunga-bunga edelweis yang mungil itu menjadi bunga kasih yang abadi. Huhu, aku nduwe ukoro anyar mas, “Naik gunung adalah harapan, dan rabi adalah tujuan”. Piye?~ jreng jreng.... Pararararam pararararam uuuuu uu.
Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang. Tergoyang angin, menantikan gugur itu.. Aku.. ingin berdua denganmu, diantara daun gugur..-PayungTeduh.

Monday, 31 March 2014

Pantai Nguyahan



Mari bernyanyi; bersama Jalan Pulang dan Banda Neira. Nelangsa-riang di dalam perjalanan pulang. Biarkan dua band folk ini memandu arah tujuan kita. Berlayar dengan kapal kertas, menyanyikan lagu berdua hingga nyatalah kini bahwa kita telah tersesat ke entah berantah. Di dalam tanda tanya..

Jalan Pulang
Hari ini kutempuh jalanku
kembali resapi mimpi
kutempuh perjalan ini
dengan gelisah selimuti hati
.......
Kemanapun aku kan pergi
ku kan slalu pulang ke hatimu
Kemanapun aku kan berjalan
ke pelukmulah ku kan singgah...

Ah, lupakan lupakann...lupakan!
Acara yang sudah saya agendakan jauh-jauh hari; nonton konser Banda Neira dan Jalan Pulang 15 maret yang lalu terpaksa saya BATALKAN! Hal ini dikarenakan acara camping yang saya pikir lebih menyenangkan daripada nonton konser; sendiri, di tengah-tengah keramaian (berpasang-pasangan), nyanyi-nyanyi lagu nelangsa, gak jelas. Mending saya pergi ke pantai; bermalam, senang-senang, bakar ikan, bersama teman. Pilihan saya tepat, kali ini tidak ada penyesalan untuk meninggalkan Banda Neira dan Jalan Pulang, lagipula saya juga sudah pernah nonton keduanya, jadi tidak masalah jika kali ini saya absen di konser mereka.
Sebagai gantinya, seperti yang telah direncanakan sebelumnya, kami akan mengadakan camp di pantai, gunung kidul, yogyakarta. Bukan saya yang membuat acara ini, saya hanya diajak teman untuk mengadakan camp di pantai. Bisa dibilang ini adalah acara dadakan tanpa persiapan yang panjang. Tak perlu ada yang dirisaukan, semua alat sudah lengkap, kami hanya tinggal berangkat. Kapanpun ada yang mengajak acara keluar, aku selalu siap! Aku siap! Aku siap! Aku siap!

Wednesday, 5 March 2014

Di Restoran

Sebuah cerpen dari puisi Di Restoran, karya: Sapardi       

       MALAM menyisakan dingin. Sejak sore tadi hari didatangi hujan lebat. Meski kini hujan telah pulang ke rumah, namun dingin yang dibawa ia tinggal sebagai oleh-oleh dari mendung hitam. Jalan-jalan kota telah sepi ditambah genangan-genangan air yang membuat orang lebih senang bermalas-malasan di dalam ranjang. Bergoyang-goyang mencari kehangatan malam. Dengan tubuh mengigil Gatot mengendarai motornya, melaju zig-zag menghindari genangan air yang sesekali ia tembus dan kubangan terbelah ke arah kiri-kanan sisi jalan. Dini, kekasihnya ada di jok belakang. Tangannya melilit pinggang Gatot dengan sangat erat. Lebih erat dari sabuk pengaman atau ikat pinggang celana yang dikenakan Gatot. Sepasang kekasih mengigil kedinginan. Mereka berdua mencari-cari restoran yang berjajar sekitaran di pinggir jalan Godean. Ada banyak restoran yang masih buka namun tak satupun yang menarik selera mereka berdua. Dingin-dingin seperti ini masih bersemangat keluar malam untuk makan berdua apalagi dengan kekasihnya tercinta. Pikir Gatot.

Thursday, 20 February 2014

Empat Satu dan Secangkir Kopi (Malang)

Malam kedua di kota Malang. Rasa-rasanya ada yang kurang jika tidak dirayakan dengan secangkir kopi. Malam itu kami berada di sebuah lokasi pusat tongkrongan anak-anak muda, walau kurang tahu dengan nama lokasi tersebut yang jelas terletak di dekat daerah Ijen. Terdapat banyak sekali warung kopi dan juga warung makan. "Kopiku berwarna-warni." Masih dengan bahasan cerita seharian dalam perjalan bromo dan pegunungan tengger. Tentang pisang goreng dan eek kuda. Menjadi tawa yang tak ada habisnya. Di warung tempat kami ngopi menyediakan kartu remi. Kebetulan sekali karena pada waktu itu kami sedang booming dengan permainan empat satu. Saat itu yang bermain ada aku, aw, momo, dan rosi. Dartini hanya menyimak di samping kami berempat. Dia tak mengerti permainan kartu remi, dartini suka sholat dan mengaji, bukan seperti kelakuan kami. Tyas sedang galau mungkin; dia hanya asyik dengan gadgetnya. Walaupun wajahnya tak terlihat asyik. Menurutku, permainan kartu empat satu ini bukan hanya sekedar permaianan biasa. Terkandung filosofi kehidupan di dalamnya, bisa juga kisah percintaan. Dalam usaha mencari pacar misalnya. Saat bermain kartu, aku suka menyanyikan lagu dari Frau yang berjudul Empat Satu dari album terbarunya Happy Coda (2013). Ini dia lirik lagunya, kita nyanyi-nyanyi dulu biar tidak jenuh dengan tulisan. *Prekk

Perhatikan tuan sebelum semua kartu di tukarkan
Kesempatan hanya sekali dan sekali itu tak mudah
Tebaklah oh tebak manakah ratumu mana yang kau kejar
Ambil dan buang terdengar mudah tapi susah, cari aman atau kau pilih untuk menantang
Lawan-lawanmu telah memulai menabung kartu yang diimpikan, bagaimana denganmu tuan apa hanya mendapat sisa?
Tebaklah oh tebak mungkinkah kartukulah yang kauinginkan?


Liburan Musim Dingin; Bromo

"Liburan; adalah waktu, perjalanan, petualangan, senang, hati riang, adalah rindu yang dalam kepada musim yang basah oleh hujan. Sebab rindu adalah penyair hujan yang mencintai cakrawala, mengira-ira jarak tanpa mampu di tempuhnya hanya dengan kata-kata." Liburan menjadi waktu dimana kita dapat berkumpul dan bercerita tentang apa saja. Waktu yang hangat, bisa bertemu dan berkumpul dengan teman-teman lama. Handai taulan. Satu semester telah dilalui dengan penderitaan karena kegiatan perkuliahan yang sangat membosankan. Liburan seakan menjadi waktu pelampiasan untuk membunuh rasa bosan dengan melahirkan tawa gembira. Menghabiskan masa liburan dengan penuh tawa. Banyak sekali tawa. Kini masa senang itu telah usai, kembali digantikan oleh kalender akademik yang telah diaktifkan kembali. Ada banyak cerita tentang liburan di musim dingin ini; ngopi di angkringan, angkringan, angkringan...bromo, hargo dumilah, ke sekolah, angkringan... Banyak Haha.. Bagiku, liburan musim dingin yang paling berkesan adalah saat ke Bromo dan wisata Jatim Park I di kota Batu. Ini dia cerita saat kami di gunung bromo, tengger. Lets go to the beach!

Friday, 14 February 2014

Kelud, Gugur Gunung




Alarm handphone berdering jam 05.20 pagi. Hpku ini sekarang telah beralih fungsi menjadi alarm yang setia membangunkanku karena jam kuliah pagi. Meskipun aku bangun hanya untuk mematikan bunyi lalu tidur lagi. Memang seperti inilah nasib hp butut ini, operatorpun sudah jarang sms. Hari baru setengah enam pagi, tidur setengah jam lagi juga masih lumayan. Seperti biasa, tidur lagi. Biasanya matahari membangunkanku pada jam enam pagi. Ia masuk lewat jendela kaca lalu membisikkan cahayanya ke kuping dan membangunkanku. "Biarkan matahari membuka mata membangunkan malam yang lelap." *Nyanyi. Tidak untuk hari ini, matahari tak bisa menemukan jendela kamarku. Rupanya ia terjebak butiran debu yang berterbangan dari cakrawala, turun menjadi hujan. Aku masih lelap di dalam kasur busa tak beranjang ini. Tempat untukku menghabiskan waktu ketika nyelo setiap hari. Banyak kegiatan penghibur diri yang bisa dilakukan di atas kasur busa ini; menonton tv, membaca buku, main twitter, ngeblog, dan yang pasti menjadi tempat untuk sleepping beauty. Aku merasa nyaman dalam tidur, tak ada cahaya yang mengusik lelapku. Ketika terbangun coba langsung mengecek jam di hp. Ya, fungsi kedua dari hp butut ini adalah sebagai alat penunjuk waktu. Jam. Saat itu hp menunjukkan jam 06.35. Seketika mataku terbuka, mekar bagai bunga mawar merah yang merekah. Ku amati dengan teliti waktu yang ditunjukkan oleh hp. Memang benar angka di pojok layar menunjukkan setengah tujuh. Hari masih gelap, ku tatap jendela, satu pertanyaan yang ada di benak, "Ke mana perginya matahari? Kupikir dia telah terlambat datang membangunkan lelapku. Aku langsung keluar dari kamar, saat ini rumah kostan sedang sepi, mereka masih berholiday tak pernah usai. Buka pintu kamar, buka pintu utama rumah. Hari masih gelap. Ada warna langit jingga merona dari balik genteng-genteng rumah milik tetangga. Langit pagi menjadi sehebat senja. Tak sempat menikmati karena harus segera lari ke kamar mandi dan bergegas berangkat kuliah. Jarak kostan sampai kampus adalah tiga puluh menit jalan normal dan santai. Itu sebabnya aku harus bangun pagi setiap hari. Kupikir ini hanya kondisi alam biasa, mendung tebal menyelimuti kota. Jogja memang biasa dengan mendung dan hujan di pagi hari. Didukung dengan alasan karena semalam sangat panas, gerah sekali, terasa sekitar jam 11an. Keluar dari mandi langit masih saja jingga. Tanpa berpikir panjang aku memasang baju, celana dan sepatu. Siap untuk ke sekolah. Setelah keluar dari rumah, terlihat debu vulkanik mengubur jalanan depan. Merapi? Aku terburu-buru berlari ke depan televisi. Salah satu stasiun meliput berita di kota Surabaya, dampak dari letusan gunung kelud. Hujan abu. "Kok kelud?" Aku masih penasaran, hujan abu bisa sampai di jogja. "Mungkin merapi dan kelud meletus bersama", pikirku. Tapi sepertinya merapi aman-aman saja. Masih ngopi pagi bersama pacarnya, merbabu. Aku kembali keluar rumah kembali melihat langit. Rintik-rintik abu masih terlihat. Putih bagai hujan salju. Hanya ada satu pikiran di kepalaku. Kuliah libur hari ini! haha. 
Kelud meletus. Berita yang mengejutkan. Bahkan abu vulkanik sampai di jogja. Kutanggalkan baju dan celanaku, ganti dengan kaos dan celana kolor biasa. Jelas gak mungkin pergi ke kampus. Menyimak berita di TV. Sial, masih juga ada sinetron pagi-pagi seperti ini disaat keluarga kita masih sibuk menyelamatkan diri. Terkutuklah kau acara tv. Letusan kali ini adalah erupsi yang lebih besar dari letusan sebelumnya di tahun 2007. Kelud, Gugur Gunung.

emperan rumah kost :p


14 februari 2014, kado indah dari kelud. untuk valentine

Sunday, 5 January 2014

Artikel Pendidikan


Pendidikan Alam: Menciptakan Karakter Anak

MATA KULIAH : SOSIO-ANTROPOLOGI PENDIDIKAN

Bondan Pangesthi Yuwono

12601241015

PJKR A


Abstrak

Belajar tidak hanya dilakukan pada saat jam pembelajaran di sekolah formal, belajar dapat dilakukan kapan saja, dengan siapa saja, dan dimana saja. Pendidikan nonformal difungsikan sebagai pengganti, penambah, dan mendukung pendidikan formal sebagai pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal dapat dilaksanakan salah satunya melalui kegiatan di alam dengan naik gunung, outbound, berkemah, pelestarian alam dan kegiatan lingkungan alam lainnya. Pendidikan alam dapat membentuk kepribadian anak yang berkarakter dan bertanggung jawab, menumbuhkan sifat aktif, kreatif, disiplin, tidak mudah putus asa serta berani mengambil keputusan atas dasar perhitungan yang matang.

Naik gunung adalah salah satu aktivitas alam yang mempunyai berbagai pelajaran untuk menciptakan karakter yang tangguh pada anak. Mendaki gunung bagaikan sedang menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Aktivitas pendakian memiliki banyak bahan pengajaran pendidikan karakter yang dibutuhkan seseorang utntuk menjalani kehidupan di dunia nyata.

Kata kunci: pendidikan, alam, karakter, kehidupan


A. Pendahuluan

Pendidikan saat ini dirasa semakin jauh dari makna hakiki pendidikan yang sesungguhnya. Keberantakan yang terjadi disebabkan karena sistem yang tidak selaras dengan makna pendidikan bagi manusia. Kondisi tersebut memunculkan berbagai inovasi dan alternatif dalam mengatasi masalah pendidikan dengan tujuan menciptakan generasi yang siap mengahadapi tantangan kehidupan di dunia nyata. Inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh tantangan untuk mengatasi masalah-masalah di dalam dunia pendidikan yang diharapkan dapat menciptakan pendidikan yang bermutu dari segala aspek yang dapat mengembangkan kepribadian yang berkarakter dan menghasilkan generasi bangsa yang bermartabat. Lingkungan masyarakat mempunyai andil yang besar dalam mewujudkan keberhasilan tujuan pendidikan melalui usaha pendidikan nonformal di lingkungan masyarakat itu sendiri. Pendidikan di dalam masyarakat lebih mengarah kepada pendidikan untuk kehidupan dengan tujuan mengembangkan potensi diri anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, aktif dan kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tuesday, 26 November 2013

NDELEDEK

JANCUUK! Keluar begitu saja dari mulut pak tua yang sejak pagi duduk tersungkur murung di bawah pohon kelapa menyandarkan beban hidupnya seolah-olah lebih berat dari isi perutnya yang kempes telah lama ditinggalkan makan dan minum, suaranya yang spontan memecah sepi senjakala meresapi kesedihan kehilangan warna-warna indahnya bagai petir yang menyambar membelah batu karang dari dua awan yang melaju pesat, bagai dua anak panah yang berlawanan arah, berbeda bentuk, positif dan negatif, saling berbenturan satu sama lain menimbulkan suara yang terdengar pedih oleh pohon kelapa, batu-batu, dan pasir di dataran gersang itu walau air selalu merayu sisi tepinya, namun tak pernah dirasakan air sebagai sumber air minum dan kehidupan. Mereka di pesisir yang jarang-jarang dihidupi oleh tumbuhan. Ada, namun sedikit dan hanya tumbuh kecil-kecil. Kaktus-kaktus dan pandan berduri. Berwajah perih, runcing durinya.
    Pak tua seorang nelayan yang kesepian, meratapi nasib setelah ditinggal istri dan dua orang anaknya. Mereka lenyap bersama abrasi air laut yang berlebihan enam tahun yang lalu. Tuhan telah melebih-lebihkannya. Bencana itu telah membawa lebih dari separuh nyawa penduduk desa beserta raga yang tak pernah ditemukan oleh ikan paus, hiu, dan lumba-lumba sekalipun. Sungguh tragis nasib orang-orang yang ditinggalkannya dan bahagialah mereka yang lebih dulu meninggalkan dunia. Anak-anak pak tua keduanya masih kecil, cantik dan tampan, yang perempuan delapan tahun dan laki-laki lima tahun. Istrinya adalah seorang wanita yang cantik di desanya, tentunya setelah Ponirah, Wagiyem, Suprapti, Misri, Jahenah dan beberapa wanita lainnya. Sebelumnya mereka adalah keluarga yang bahagia. Sederhana. Selalu ada cinta kasih di setiap perjalan hidup mereka, dari suami ke istri, istri ke suami, bapak ke anak, ibu ke anak, anak ke bapak, anak ke ibu, anak ke anak semuanya adalah cinta dan kasih sayang.

Sunday, 27 October 2013

Ayu-ayu Saru

Dia berada pada suatu malam, Indonesia di tahun 1975. Semua orang dibawa kembali pada kehidupan masa remaja di tahun itu. Dibalik suasana ricuh awal masa orde baru, ditunjukkannya sebuah drama percintaan kisah remaja yang bernuansa klasik. Mampu diciptakannya suasana yang nyata bahwa mereka sedang kembali pada tahun tujuh puluh. Busana bladus, masuk kedalam celana, model borju, sepatu platform, kaca mata kuning dengan bingkai hitam, sabuk kecil membelit pinggang, rambut rapi menggambarkan model wajah-wajah remaja pada waktu itu.

Semua personil siap, penonton siap, apakah kau sudah siap? apakah kau yakin sudah siap? apakah kau benar benar yakin sudah siap? apakah kau benar benar benar benar benrrr benar yakin sudah siap? baiklah mari kita bersenang-senang. Dimaikan sebuah lagu intro, sementara Mbak Sari masih bersembunyi diantara panggung, drum, gitar, piano, dan orang-orang yang telah lama menantikannya. Semua memakai sepatu putih setiap kali mereka tampil. Dan kemudian. Semua mata menyorot wanita berbaju merah, sepatu putih, rambut pendek rapi, bibir menyala, dan sabuk kecil yang berlari dari balik panggung menuju mikrofone di depan yang masih kosong tak berpenghuni. Mbak Sari. Aprilia Apsari. Semua orang bersorak. Semua orang bernyanyi. Semua orang menari. Semua orang sedang senang. Lagu pertama masa remadja, tentang masa yang paling gemilang. Masa belia masa-masa untuk bersukaria.

merekah bersemi gairah masa di SMA
semerbak harumnya nirwana tak akan terlupa

Tuesday, 22 October 2013

Judulnya "Apa?"

Hari ini hanya sampai jam 12, selanjutnya adalah waktu-waktu luang yang tak pernah mengenal kesibukan. Tanpa menyapa satupun orang-orangan kampus, aku bergegas pulang ke rumah kost dan mencari makan murah-murahan sekedar untuk memenuhi tuntutan perut yang lapar. Hanya nasi rames dan gorengan, teh hangat untuk sekedar patu-patutan. Aku kembali ke rumah, membuka jendela kaca, laptop, nyalakan lagu, dan membaca cerita-cerita karya Danarto. Pengarang yang memiliki imajinasi yang sangat hidup dan mampu membangkitkan cerita-cerita fantasi sekaligus jenaka. Cerita-cerita Danarto adalah parodi. Dalam parodinya, yang diejek terutama sastra itu sendiri. Cerita Danarto ini telah mengejek genrenya sendiri - Sapardi Djoko Damono. Sepertinya memang pantas jika aku dipanggil sebagai wong selo, hidup tidak pernah mempunyai kesibukan hanya ada lagu-lagu dan tubuh berbaring di atas kasur empuk. Akhir-akhir ini aku baru mengenal membaca, setelah cerpen-cerpen ramai diperbincangkan sebagai karya sederhana dan mudah untuk menuliskannya. Aku hanya sekedar mencoba. Mulai dari menyelami tulisan yang jarang terlihat oleh mata, pengarang yang tak pernah terdengar di telinga, kertas yang jarang tercium bau khasnya, dan seisi buku yang membuat pusing di kepala. Hanya baru tiga cerita, mata menyuruh tangan menutup buku. Tidur dengan lagu-lagu yang masih menyala.

Tak lama, aku terbangun setelah mendengar adzan ashar mengalahkan nyanyian-nyanyian dari laptop. Masjid-masjid sekitar berlomba menyuarakan panggilan Tuhan, berlomba memerdukannya. Panggilan apa? hey tubuh cungkring, kau dipanggil-panggil. Lanjut tidur? Tubuhku tak mau meninggalkan kasur, sementara suara adzan menyeret orang-orang ke masjid. Tubuh ini tetap tidak mau. Nati saja, jam setengah 5 atau jam 5 sore. Setelah masjid mendapatkan orang-orangnya, aku menambah volume sound laguku. Indie Art Wedding yang mengajakku menyaksikan keributan rumah tangga dan cinta yang sengit. Ballads Of The Cliche dengan Distant Star, tentang dua hati yang tak pernah menyatu. Teman Sebangku yang menikmati bangku taman dengan seduhan secangkir kopi, alunan semilir angin, dan berdansa di kala senja. Payung Teduh yang menjadikan malam sebagai saksi diantara kata-kata yang tak sempat terucap ketika berdua. Mocca dan Endah n Rhesa yang selalu bermain dengan lagu-lagu cinta. Melancholic Bitch bercerita tentang perjalanan joni dan susi yang jatuh miskin hingga mencuri sepotong roti. Tiga Pagi tentang batu tua yang tak pernah bisa menjadi permata. Masih banyak lagi di belakangnya, dan tak mungkin dituliskan disini satu persatu. Lirik-lirik pintar yang membawamu kesana-kemari, merendah-meninggi, duduk-berdiri, berjalan dan berlari, terbang seperti kupu dengan sayapnya. Mata masih sayup setengah bermimpi. Lagu-lagu pentidur sekaligus penghidup, tak apa asalkan lagu-lagu Indonesia.

Sudah jam 5 sore, aku memenuhi panggilan ashar masjid tadi. Cerita sore yang tidak perlu. Haha Selamat menikmati Senja.

*wong selo adalah orang yang selalu mempunyai waktu luang dan tidak pernah mempunyai kesibukan

Manusia HaHa
Kamar Kost, 22 Oktober 2013